Suara bising orang-orang di dalam bus, ada bahasa keakraban. Mereka saling bercanda, bersanda gurau. Tak ada yang peduli siapa yang risih dengan coletahnya. Kalau ditanya, maka kujawab itulah bahasa sosial di negeriku. Mujilah, perempuan paruh baya itu, naik dan masuk bus dengan kaki pincang. Suaminya yang catat terlebih dahulu memasuki lorong bus yang cukup untuk dua orang jalan bersama. Keduanya menelanjangi kursi. Berharap ada kursi yang kosong untuk ditempati. Dua langkah melawan arah bus, seorang aku mempersilahkan duduk perempuan beralis tebal lagi hitam itu. Ia hanya menjawab salam, lalu duduk di sebelahku. Di pangkunya tas seharga empat puluh lima ribu. Di sampingnya, suaminya yang bernama Slamet Raharjo menikmati perjalanan. Udara terasa panas, Mujilah menawarkan sebuah kertas untuk suaminya. Barangkali kertas itu mempu meredakan panas di tubuh lelaki cacat itu. Ya, lelaki yang terpaut tidak jauh usianya, sekitar enam tahun itu cacat karena sebuah tragedi. Entah...
"Percayalah, suatu hari nanti akan datang berkah dari setiap proses. Tentu, hakikat proses tidak pernah mengkhianati hasil. Percayalah! Untuk hari ini, tuliskan jejak hidupmu ke dalam tulisan. Senantiasa ia akan abadi meski kita berada di ruang keabadian."