Aku mencintai keindahan. Aku juga mencintai kesempurnaan. Akulah orang perfeksionis itu. Kak, kutulis surat ini atas dasar permintaanmu. Kalau kamu tanya, apakah aku menulis karena terpaksa? Tentu, aku akan menjawa b nya tidak. Aku butuh waktu untuk memahamimu, tidak saja tahu akan dirimu. Pun, aku butuh rangkaian huruf untuk mencipta kata menjadi kalimat, kalimat menjadi kisah, dan kisah menjadi satu satunya sejarah. Kakak kaya ilmu tentang Islam, mantap. Aku senang bisa mengenalmu lebih dekat dari lima sentimeter. Semoga, esok akan ada waktu kita berjumpa untuk saling berdiskusi dan berbagi pikiran. M aaf, tulisan ini kusebutlah surat, supaya ada balasan darimu. M ungkin surat ini terkesan biasa. Seperti ya surat-surat anak SD baru mengenal yang namanya cinta monyet. Ya benar adanya. Aku cinta, kamu yang monyetnya. Dan aku , mencintai monyet itu. Hahaha. Kak, mungkin surat ini tidak akan selegendaris surat-surat Kartini kepada orang Belanda. Juga , tidak seroma...
"Percayalah, suatu hari nanti akan datang berkah dari setiap proses. Tentu, hakikat proses tidak pernah mengkhianati hasil. Percayalah! Untuk hari ini, tuliskan jejak hidupmu ke dalam tulisan. Senantiasa ia akan abadi meski kita berada di ruang keabadian."