“Kapan Eyang pulang, Bu?” tanya Kalila. “Kamu berdoa saja untuk Eyang.” Ibu menelangkupkan selimut di tubuh Kalila. Ia meninggalkan anak berumur enam tahun itu dalam remang -remang lampu kamar. Ada luka yang menganga. Hatinya koyak keras, perih. Siapa tahu bahwa benar Kalila sudah tidur. Anak ber mata bening itu lantas menghempas selimutnya hingga di pinggir kasur. Dibukanya bibir jendela kamar. Malam itu ia menunggu bintang jatuh. Kata Eyang, berdoa saat ada bintang jatuh akan dikabulkan. *** Kisah ini terjadi dua musim lalu . E mpat orang ber seragam loreng datang ke rumah. Dua di antaranya tanpa basa-basi menyeret tangan Eyang. Tubuh renta Eyang terhuyung. Mereka terus menyeret lebih kuat. Satu orang lainnya membuang buku yang mula dipegang Eyang. Orang satu nya lagi , membungkam mulut Eyang dengan kain kumal. Kau tahu, saat itu Eyang sedang mendongengkan Kalila tentang sejarah. Tibanya orang bertubuh gempal itu Kalila meringkuk di bawah meja ukir. Baju bi...
"Percayalah, suatu hari nanti akan datang berkah dari setiap proses. Tentu, hakikat proses tidak pernah mengkhianati hasil. Percayalah! Untuk hari ini, tuliskan jejak hidupmu ke dalam tulisan. Senantiasa ia akan abadi meski kita berada di ruang keabadian."