Membaca halaman utama koran Kompas, edisi Selasa, 22 Mei 2018 membuat saya terbelalak. Berita berjudul “151.509 Ruang Kelas Sekolah Rusak Parah” merupakan tamparan yang teramat sakit bagi masyarakat yang berkecimpung di dunia pendidikan, termasuk saya. Meskipun masih penikmat bangku kelas, sebagai mahasiswa hati terasa tercabik-cabik membaca berita tersebut. Penyakit dalam bidang pendidikan belum bisa terselesaikan hingga detik ini. Tidak saja menyerang organ dalam pendidikan, tetapi juga piranti pendidikan. Sebagai contoh sarana dan pra sarana penunjang belajar siswa. Hari ini kembali noktah tersebut tergaris, yaitu rusaknya ratusan ribu ruang kelas sekolah jenjang SD, SMP, hingga SMA. Permasalahan utamanya disebabkan alokasi APBN selama tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Kemudian ditambah, pengelolaan pendidikan pemerintah daerah belum berjalan baik, yakni sumber daya manusia belum memadai. Dua permasalahan mendasar itu, menurut saya harus diberikan benang mera...
"Percayalah, suatu hari nanti akan datang berkah dari setiap proses. Tentu, hakikat proses tidak pernah mengkhianati hasil. Percayalah! Untuk hari ini, tuliskan jejak hidupmu ke dalam tulisan. Senantiasa ia akan abadi meski kita berada di ruang keabadian."