Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label PBSI

Reportase: Jangan Jual Budaya ke Tetangga

Aktor dalam pementasan lakon teater harus memiliki rasa sensitif tinggi. Sensitif terhadap orang lain, lingkungan, budaya, sentuhan hingga bau. Itu yang harus dipenuhi sebagai pembangun ruang imaji. Selain itu, karakter lakon menjadi bagian terpenting agar dapat menghayati peran yang dimainkan. Itulah pesan Suprapto, pembimbing teater Wakamandini STKIP PGRI Ponorogo . “Sensitif bukanlah sebuah ego, melainkan sensitif terhadap realita lingkungan sekitar,” tambahnya. Pementasan teater berlangsung di Gedung Kesenian Ponorogo, Jl Batoro Katong, Ponorogo, Sabtu (21/4/2018). Pentas berjudul Jatil Ndalem Pujokusuman karya mahasiswa mengangkat cerita tentang jual-beli seni budaya dengan negara tetangga. Tari Jatil dan kesenian reog dari Ponorogo dalam lakon itu dibeli Rp 500 juta. Pembeli berjanji akan membuat acara besar pagelaran jatil setelah berhasil memiliki seni itu. Aksi jahat yang dilakukan Bu Siti terhadap aset budaya, dicurigai Minah, Suryo, dan ...

Reportase: Dunia Berbeda di Atas Panggung

Bermain drama tidak cukup hafal naskah dialog. Namun, perlunya mimik dan ekspresi sebagai pendukung cerita yang dilakonkan. Ruang 103, STKIP PGRI Ponorogo, Selasa (30/1/2018) tepat pukul 13.20 terdengar riuh para pemain drama. Mereka adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) STKIP Ponorogo. Ada tiga kelompok yang masing-masing berjumlah 4-6 mahasiswa. Mereka berlatih keras memaksimalkan bermain peran berdasarkan naskah dialog karya kelompok. Purwo Widodo, bermain sebagai seorang pemuda yang sedang meminang Iin, gadis yang dicintai. Diiringi instrumen lagu romantis bernuansa pernikahan, keduanya sah menjadi suami dan istri. Dengan penuh penghayatan Iin mengekspresikan perasaan suka begitu calon suaminya memasangkan cincin perkawinan di jari manisnya. Namun, begitu undangan pulang tragedi menimpa istri. Kedua tangannya tiba-tiba gatal yang diduga dikarenakan cincin palsu. Karena itu, ibu dari pihak wanita marah besar. “Perkawinan ini tidak...

Reportase: Sanksi Literasi

Bukan zamannya lagi menerapkan hukuman fisik bagi pelajar maupun mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Seperti pandangan Skinner, tokoh belajar behavioristik mengemukakan jika mengaplikasikan hukuman fisik kepada pembelajar cenderung memberikan dampak. Baik dampak yang berlangsung sementara maupun jangka panjang. Teori belajar behavioristik merupakan metode pembelajaran perubahan sikap atau tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus (S) dan respon (R). Secara harfiah, hukuman fisik bukanlah salah satu hukuman yang mendidik.  Seperti yang diterapkan Suprapto, dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Ponorogo. Selasa (6/12), di ruang 102, sembilan mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2015 melakukan pelanggaran masuk ruang kuliah lebih dari 30 menit. Menyikapi hal itu, dosen pengampu mata kuliah Korespondensi itu, memberikan hukuman membaca puisi berantai secara spontan. Tema puisi dibebaskan ses...