Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Karya Abadi

Surat untuk Mas Fendik (13)

Teruntuk Mas Fendik yang membahana. Kusampaikan terima kasih padamu telah membalas sebagian suratku. Senang bisa menyelami dan menikmati rangkaian kata, meski terkesan kaku. Hehehe, rupanya jiwa disertasimu masih terbawa hingga pada surat ini. Terima kasih, aku tambah percaya bahwa kehidupan zaman orde baru kurang lebih tipis-tipis dari beberapa novel yang kubaca. Ngeri juga ya Mas. Aku bersyukur tidak hidup di zaman itu.  Dan, aku beruntung masih bisa menikmati jiwamu hingga terbitnya surat ini. Apakah kau sudah melihat surga seperti yang terceritakan dalam kitab Suci kita? Apakah di ruang keabadian tubuhmu masih sakit seperti dulu, Mas? Semoga, keadaanmu membaik di sana. Paling tidak dalam kesendirianmu di jendela surga kau menghirup kedamaian yang sebenarnya tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa apapun. Penjelasanmu sesuai apa yang kuterima. Sekalipun novel itu fiktif, pengarang memiliki tempat untuk merefleksikan potret kehidupan. Pengarang bergerak, berm...