Mas Fendik terkasih. Teriring doa Senin yang mendung kukirimkan surat ini sebagai pembuka minggu bahagia. Meskipun, beberapa orang beranggapan Minggulah pembuka hari. Biarlah anggapan itu berlalu, untuk apa pula memikirkannya. Bukankah setiap orang memiliki kesempatan untuk melihat sesuatu dari sudut pandangnya? Kata guruku, kondisikan Senin sebagai pendobrak semangat. Buatlah perapian di tanah lapang jiwamu, kumpulkan seperangai kekuatan untuk membakar otot. Ada sesuatu yang perlu kamu tunggu, untuk sekadar bersabar mendapatkannya, energi. Sejenis aliran listrik dalam tubuh yang siap mengedarkan energi-energi positif di jiwamu. Seketika, maksimalkan energi itu hingga akhir pekan nanti, di hari Minggu. Mas Fendik yang membahagia. Dua hari lalu, ada seseorang yang menanyakan kabarmu. Bukan perempuan, bukan. Bakalan cemburu apabila memang ada. Dia sesamamu. Umurnya ya hampir sebaya denganku, kelahiran 1994. Aku sampaikan, kamu dalam keadaan baik-bai...
"Percayalah, suatu hari nanti akan datang berkah dari setiap proses. Tentu, hakikat proses tidak pernah mengkhianati hasil. Percayalah! Untuk hari ini, tuliskan jejak hidupmu ke dalam tulisan. Senantiasa ia akan abadi meski kita berada di ruang keabadian."