Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Surat

Surat untuk Mas Fendik (11)

Selamat datang di bulan Ramadhan ke-15, Mas Fendik berkoko. Malam ini bintang menebar jala  di angkasa. Bulan menerka-nerka pada kehidupan fana. Keduanya saling bergumam, pelbagai catatan malaikat dibacanya bersama. Tetiba, terciptalah sebuah telaga. Telaga yang memancarkan harapan besar bagi kehidupan di dunia. Bersamaan itu, aku sedang menunggu sebuah keputusan, akhir dari sebuah pertemuan mata. Aku tak mungkin lupa, bagaimana pertemuan itu tercipta hingga menjadikan perpisahan tak terduga. Kamu tahu, ada banyak hal yang tidak dapat ditafsirkan begitu saja. Butuh penerjemah, referensi untuk membaca simbol-simbol kehidupan. Di surat cinta kesebelas ini, aku hendak mengajakmu berbincang-bincang lebih serius. Penulis buku Gede Prama berkata, “Kematian bukannya lawan kehidupan. Ia adalah mitra makna kehidupan. Hanya dengan menyelami kematian, manusia bisa hidup dengan indah, sekaligus mati dengan indah.” Mas Fendik tercinta, kata-kata itu bertengger pada pembuka sebuah b...

Surat untuk Mas Fendik (10)

Mau disebut fiksi boleh, mau dianggap fakta terserah—ini cuma sebuah roman metropolitan. Sebuah kutipan dari tulisan Seno Gumira Ajidarma yang terdapat di balik sampul buku Jazz, Parfum, dan Insiden.  Buku menarik—catatan dari Timor-Timor ini kutemukan di rak buku. Satu baris dengan beberapa buku kumpulan cerpen Kompas sejak tahun 1992-2016. Buku setebal 200 halaman ini adalah cetakan pertama tahun 1996 oleh penerbit Bentang. Buku ini telah kuhabisi hingga epilog surat untuk seseorang—Alina. Itu surat ditulis saat Seno berlama-lama menikmati cahaya senja keemasan. Di saat semacam itu, ada ribuan kenangan yang melingkar di kepalanya—tentang seorang wanita, pembantaian, pembunuhan, wanita dengan parfum di tubuhnya, orang-orang gay dan lesbian, dan seabrek kenangan. Tulisannya dikemas dengan bahasa puitis, diksinya manis, larik tulisannya liris. Pokoknya menggoda abis. Sudah berulang kali kubaca surat itu tidak jemu. Seolah, aku adalah Alina sedang dimabukkan oleh r...

Surat untuk Mas Fendik (9)

Takut tapi abai, itu apa namanya? Hai, Mas Fendik maaf aku baru mengirimkan kabar hari ini. Tadi pagi sampai siang, aku sedang bersemangat membaca buku Jazz, Parfum, dan Insiden karya Seno Gumira Ajidarma. Sorenya, ya seperti biasa memasak untuk menu buka puasa. Oh ya, bagaimana puasamu, lancar kan? Tetap jaga daya tahan tubuh ya Mas. Jaga perasaan juga lo. Ingat aku ini wanita. Mas, dua hari yang lalu, kita memeringati hari Pendidikan. Selamat hari pendidikan ya? Walau perayaannya beda dengan tahun sebelumnya, tentu harapannya tetap sama kan—mencipta peradaban berpendidikan, unggul, kreatif, inovatif, dan mandiri. Situasi pandemilah yang membuat kita bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah untuk memangkas penyebaran virus korona. Hari pendidikan yang spesial, ya Mas. Di tahun ini diwarnai dengan suasana Ramadhan, diuji oleh pandemi. Percaya deh, bakalan dicatat semua amal tindak, amal pikir, dan amal rasa kita.  Selamat menjalankan ibadah puasa, ya. Meski...

Surat untuk Mas Fendik (4)

Mas Fendik, aku hendak menulis sesuatu pada surat ini. Tapi, ketakberaturan pikiran dan emosi membuatku tidak bisa menuliskan sesuatu yang dapat dibaca. Aku tidak tahu hal apa yang sedang aku pikirkan, sehingga tidak bisa tidur. Badanku terasa lelah dan letih. Mata ini mengantuk, tapi enggan untuk tertidur. Segala upaya, sudah aku lakukan untuk mengistirahatkan semua lintasan dalam otak, tapi malam itu aku mengalami kegagalan. Serupa berjalan di sebuah tempat yang tidak ada ujungnya. Aku dituntun oleh sebuah cahaya. Aku berjalan mengikuti cahaya itu. Mas, aku tidak tahu ada di mana sekarang. Keadaan teramat sepi. Sedihnya, aku tidak mengenali diriku. Mas, ada apa denganku? Apakah kamu pernah mengalami kejadian seperti ini. Ohh, Dua hari, aku sibuk menata buku, bongkar-pasang buku. Aku senang, tapi ada hal yang membuatku jengkel—kesia-siaan dalam pekerjaan. Ada sesuatu yang sia-sia. Bagaimana dulu aku teramat berhati-hati, namun akhirnya ya semua sama. Apaan ini, Mas. A...

Surat untuk Tuan Korona

Selamat pagi Tuan Korona. Sampai manakah perkembangbiakanmu saat ini? aku harap ketika kebutuhanmu terpenuhi segera hengkang dari tanah air. Aku tidak ingin negeriku terus berduka. Korona, aku tahu, kamu sebenarnya virus yang baik. Kamu salah satu ciptaan Tuhan. Korona, kukabarkan padamu, bahwa kita diberi anugerah untuk hidup. Kamu berhak hidup sebagaimana kehidupanmu. Dan, manusia berhak hidup atas kehidupannya. Aku mohon kepadamu untuk tidak lagi mencari inang di tubuh manusia. Kami takut kehilangan saudara, teman, dan kerabat. Kalau kamu butuh makanan, cobalah cari makanan lain. Jangan pada manusia. Korona, aku tahu memang manusia di zaman sekarang banyak berdusta atas dirinya sendiri dan orang lain. Orang-orang elit semena-mena, aku tahu. Pemimpin, saling mengejar status dan kedudukan, aku tahu. Orang kaya, banyak yang lupa atas penderitaannya, aku tahu. Aku juga tahu, tidak pun kujelaskan, kamu sudah tahu tentang tabiat manusia era ini. Jika kamu tahu, ...