Bagaimana kabarmu, Mas? Alhamdulillah ya, tidak terasa kita berjalan di minggu ketiga di bulan Suci ini. Selamat menjalankan ibadah puasa di ruang keabadianmu. Semoga, ketakberaturan hidup semakin berkurang ya Mas. Aku merindu kehidupan yang damai, tentram, dan penuh martabat. Cita-cita di dunia tentu melanggengkan kehidupan baik—saling berbagi dan mendoakan sesama. Mas Fendik terkasih, selepas membaca balasan surat darimu. Diri ini tidak mampu berkata-kata. Menulis kalimat pun tak mampu. Aku berusaha menyusunnya, satu dua kalimat, hingga satu paragraf. Kemudian, tombol merah itu muncul. Skak, semua terhenti, termasuk kata-kataku. Biasanya aku cukup mengalir menuliskan surat-surat untukmu. Mulai dari surat edisi pertama hingga ke-13. Saking lancarnya hingga berhalaman-halaman. Namun, entah mengapa di surat ke-14 ini tanganku amat berat untuk menyentuh berisan keybord. Mas Fendik tercinta, maaf ya, semalam aku dingin. Sebab, aku telah menemukan ...
"Percayalah, suatu hari nanti akan datang berkah dari setiap proses. Tentu, hakikat proses tidak pernah mengkhianati hasil. Percayalah! Untuk hari ini, tuliskan jejak hidupmu ke dalam tulisan. Senantiasa ia akan abadi meski kita berada di ruang keabadian."