Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Timor-Timor

Sinopsis Jazz, Parfum dan Insiden Karya Seno Gumira Ajidarma

Kisah fiksi beraroma fakta adalah Jazz, Parfum, dan Insiden. Seno membalut aksi kekerasan di Timor-Timor dengan bumbu percintaan antara pengarang dengan beberapa wanita yang khas dengan parfum di tubuhnya. Wanita-wanita itu adalah rekannya, wanita yang dijumpainya di sebuah tempat, dan wanita yang dikenalnya. Fakta tentang saksi mata insiden Dili di pemakaman Santa Cruzz dibumbuhi kisah fiktif. Mengapa Seno melakukan ini karena ketidakpuasaan dalam hal kebebasan pers pada masa Orde Baru. Akhirnya, terbitlah buku ini untuk membongkar kebusukan pemerintah dan informasi yang tumpang-tindih di media. Perihal pembunuhan dan pembantaian secara gamblang dapat dibaca melalui tulisan-tulisan dari para saksi mata. Saksi mata itu menyeluruh, baik dari sudut pandang masyarakat, korban, kelompok mahasiswa, penjabat, wartawan, pengusaha, orang gay dan lesbian, binaragawan, panglima militer, dan masih banyak lagi.  Sebagai pecinta keindahan dan wanita, Seno membubuhkan aroma se...

Surat untuk Mas Fendik (10)

Mau disebut fiksi boleh, mau dianggap fakta terserah—ini cuma sebuah roman metropolitan. Sebuah kutipan dari tulisan Seno Gumira Ajidarma yang terdapat di balik sampul buku Jazz, Parfum, dan Insiden.  Buku menarik—catatan dari Timor-Timor ini kutemukan di rak buku. Satu baris dengan beberapa buku kumpulan cerpen Kompas sejak tahun 1992-2016. Buku setebal 200 halaman ini adalah cetakan pertama tahun 1996 oleh penerbit Bentang. Buku ini telah kuhabisi hingga epilog surat untuk seseorang—Alina. Itu surat ditulis saat Seno berlama-lama menikmati cahaya senja keemasan. Di saat semacam itu, ada ribuan kenangan yang melingkar di kepalanya—tentang seorang wanita, pembantaian, pembunuhan, wanita dengan parfum di tubuhnya, orang-orang gay dan lesbian, dan seabrek kenangan. Tulisannya dikemas dengan bahasa puitis, diksinya manis, larik tulisannya liris. Pokoknya menggoda abis. Sudah berulang kali kubaca surat itu tidak jemu. Seolah, aku adalah Alina sedang dimabukkan oleh r...