Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Radar Madiun

Derit Jerit Tentang Indonesia

  Barangkali, nasib Arafat Nur serupa dengan Seno Gumira Ajidarma, dan sastrawan lainnya. Sastra dijadikan peraduan suara hati mengungkap kebenara n . K eduanya , melepas jaring kebusukan yang membombardir pikiran. K arya-karya Arafat—baik novel maupun cerpen dapat dikatakan sebagai sebuah kritik pedas terhadap kekuasaan. Arafat memotret kekuasaan, menelanjangi persoalan duniawi. Arafat pula, merepresentasikan budak-budak tanah air dengan sejumlah ketakutan, kecemasan, dan kegelisahan. Perasaan itu berkecambuk, tiada siang maupun malam. Bayangkan, dalam penceritaan yang detail, kronologis, dan ekspresif kita digiring melalangbuana melihat dan merasakan konflik antara pemerintah d an kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tahun 1976 - 2005. 29 tahun, bukanlah waktu yang singkat melukis luka di tanah air. Seolah-olah di belahan bumi Aceh tampak kemengaliran darah daripada korban-korban kebisingan. K onflik di tahun-tahun pembantaian (sebut Arafat) banyak menyita prihatin publ...

Aku Malu Jadi Manusia

“Sekalipun anjing berasal dari ludah iblis, ia sangat setia kepada manusia. Kesetiaan anjing tidak sebanding dengan kesetiaan manusia....”   (hal.188). Demikian itu secuil kisah dari novel Arafat Nur , Lolong Anjing di Bulan yang berhasil menculik perhatian saya . Anjing adalah anjing. Anjing adalah kelompok binatang. Dia bukan manusia. Nama -nama binatang sering dijumpai dalam novel, cerita pendek, puisi, dan genre sastra Indonesia. Seperti anjing, kucing, babi, singa, harimau, kuda, siput, elang, tikus, dan lain sebagainya. Binatang-bintang tersebut ditempelkan sebagai warna cerita. Bahkan, bisa saja dialah tokoh yang produktif. Seakan binatang andil peran laiknya manusia. Katakanlah, novel Dataran Tortilla (1977) karya John Steinbeck. Steinbeck dengan fasih bercerita tentang tokoh Pilon dan ayam. Pilon adalah pembunuh ayam yang ditemukan di pinggir hutan pinus sebagai santapan makan malam. Ayam dalam novel tersebut dijadikan kemenangan tokoh dalam membunuh dan menyanta...

Novel, Kritik Sosial, dan Tragedi Kemanusiaan

Sesungguhnya, tidak ada sesuatu tanpa hukum kausalitas untuk dituliskan dalam karya sastra, salah satunya novel . Novelis, Arafat Nur misalnya. Penulis asal Aceh ini banyak menelurkan karya novel dan kumpulan cerpen. Sejarah Aceh dan konflik kemanusiaan menjadi ide cerita tema perlawanan dan perjuangan Aceh pada saat konflik dan pascakonflik. Ketidakadilan pada masa itu berakhir pada pertumpahan darah yang dipimpin oleh Hasan Tiro pada tanggal 4 Desember 1976. Katarsis atau pembersihan dari ingatan konflik Aceh dilakukan Arafat Nur sebagai bentuk kritik sosial. Selain penulis peraih KLA 2011 ini juga muncul penulis seperti Thayeb Loh Angen melalui novel Teuntra Atom, Kabut Perang karya Ayi Jufridar, dan lainnya. Penulis-penulis ini dalam bahasa sastrawan George Bernard Shaw mereflesikan kias cerit dari kehidupan pengarang sendiri. Hal itu, sudah sejak lama pun dilakukan penulis lama, seperti Marah Rusli melalui Siti Nurbaya, Sutan Takdir Alisjahbana dalam Layar Terkembang...

Cerpen: Pertanyaan Kalila

“Kapan Eyang pulang, Bu?” tanya Kalila. “Kamu berdoa saja untuk Eyang.” Ibu menelangkupkan selimut di tubuh Kalila. Ia meninggalkan anak berumur enam tahun itu dalam remang -remang lampu kamar. Ada luka yang menganga. Hatinya koyak keras, perih. Siapa tahu bahwa benar Kalila sudah tidur. Anak ber mata bening itu lantas menghempas selimutnya hingga di pinggir kasur. Dibukanya bibir jendela kamar. Malam itu ia menunggu bintang jatuh. Kata Eyang, berdoa saat ada bintang jatuh akan dikabulkan. *** Kisah ini terjadi dua musim lalu . E mpat orang ber seragam loreng datang ke rumah. Dua di antaranya tanpa basa-basi menyeret tangan Eyang. Tubuh renta Eyang terhuyung. Mereka terus menyeret lebih kuat. Satu orang lainnya membuang buku yang mula dipegang Eyang. Orang satu nya lagi , membungkam mulut Eyang dengan kain kumal. Kau tahu, saat itu Eyang sedang mendongengkan Kalila tentang sejarah. Tibanya orang bertubuh gempal itu Kalila meringkuk di bawah meja ukir. Baju bi...