Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ponorogo

Jangan Biarkan Ide Tulisan Menguap

  Eni Kusuma bersama buku-bukunya. Tepat di ruang garasi milik Sutejo, salah seorang dosen Kopertis VII Surabaya yang tinggal di kota Ponorogo terasa begitu khidmat. Suasana malam Minggu (15/12/16) terasa lain dari malam-malam Minggu sebelumnya. Ketika sebuah hidangan pisang goreng dengan beberapa cangkir kopi saya sajikan, menjadi piranti camilan obrolan hangat.  Waktu itu, di belakang mobil bermerk Agya berwarna putih, saya bersama ketiga sahabat literasi, dan Sutejo, serta istri dan ketiga anaknya menghabiskan sisa malam Minggu dalam kajian literasi. Diskusi kecil itu berlangsung hingga larut malam, sekitar pukul dua dini hari.  Di sebelah saya, tepatnya bersekat seorang kawan, perempuan berpostur kurus sedikit tinggi sekitar 150 sentimeter itu bercerita begitu memikat. Beberapa tuturan yang menyentakkan saya di antaranya berbunyi demikian, pertama setiap orang bisa berkarya walaupun dia adalah seorang tenaga kerja wanita. Kedua, uang itu cepat hab...

Reportase: Sebab Menulis

Keyakinan niat menulis, bisa menulis hingga sukses dari menulis menjadi serbuk hipnotis. Tip mudah menulis bagi penulis muda Ponorogo ditawarkan Sutejo, penulis 38 judul buku asal Ponorogo saat mengisi Gerakan Santri Menulis di Ponpes Al-Munjiyah Durisawo Ponorogo, Minggu (5/11). Madrasah literasi yang diadakan IPNU-IPPNU Ponorogo bekerja sama dengan Robithoh Ma’ad Islami (RMI), salah satu lembaga organisasi NU yang menaungi pondok pesantren se-Ponorogo. Mengusung tema Membangun Budaya Literasi Menuju Kemandirian Santri di Era Digital.  Ketua IPPNU Ponorogo, Mazaya Fikrotil Aimmah mengharapkan agar santri terus belajar. Salah satunya belajar menulis guna mengingatkan dan menyadarkan santri terhadap sejarah Islam terdahulu bahwa para tokoh Islam sukses karena karya.  Sutejo, lewat pemaparannya mengaku menulis sejak duduk di bangku SMP. Tepatnya ketika merasa jatuh cinta. Ia setiap hari menulis di mesin ketik hampir setebal kamus bahasa Inggris dengan ukuran k...

Feature Kuliner: Berburu Nasi Pecel Mbok Bariyah

Hari Minggu (22/1/2017) pagi, bersama dua teman, kami menerobos kabut untuk berburu nasi pecel. Inilah keunikan Ponorogo di hari Minggu. Sepanjang jalan, baik jalan utama maupun gang terdapat deretan warung kecil yang menjajakan sarapan nasi pecel. Sajian nasi pecel memang sederhana. Nasi putih punel disuguhkan bersama aneka sayuran hijau berupa daun ketela, kenikir, daun pepaya, bayam, kembang turi, tauge, kacang panjang, diimbuh irisan mentimun dan kecambah mentah, yang disiram bumbu sambal pecel, tidak ketinggalan tempe goreng. Nah, nasi pecel Mbok Bariyah yang berada di Desa Patihan Kidul, Ngondang, Siman, Ponorogo inilah yang kerap menjadi sasaran utama warga yang doyan pecel. Warung kecil didirikan di depan rumah. Buka setiap hari, dari pukul 05.00-07.00 WIB, selalu ramai pengunjung. Rata-rata ibu rumah tangga dan anak sekolah. Pecel Mbok Bariyah, salah satu warung yang masih bertahan setelah harga bahan makanan, termasuk cabai melambung tinggi. Sebagai warung nasi...