Hari ini, aku dan dari kita (beragama Islam) sudah memasuki Ramadhan ke-10. Kita sebentar lagi memasuki pekan kedua untuk berupaya berikhtiar menahan nafsu. Ramadhan yang berbeda ya. Aku merasakan sesuatu yang amat asing di tahun ini. Bagaimana Ramadhan yang identik dengan lantunan surah Allah di berbagai tempat ibadah, kini amat sepi. Biasanya, dua masjid yang mengapit rumah tidak jemu dengan ayat-ayat Allah. Masyarakat beramai-ramai ke masjid untuk berjamaah, melaksanakan tarawih, sekaligus tadarusan. Hmm, rupanya di ramadhan tahun ini tidak demikian. Sungguhan, aku merasa berbeda dan jiwa berontakku menolak keras. Utamanya fenomena salat jamaah yang menurut ajaran Islam rapat barisan, shaf lurus. Hmm, kini berjarak lo. Ternyata tidak saja hubungan seseorang yang berjarak. Kini, di pandemi hubungan manusia dengan Allah juga berjarak. Di jamaah salat tarawih, seringkali aku melihat makhluk kasat mata berlarian di antara orang salat. Mereka bermain zigzag, kelihatannya ...
"Percayalah, suatu hari nanti akan datang berkah dari setiap proses. Tentu, hakikat proses tidak pernah mengkhianati hasil. Percayalah! Untuk hari ini, tuliskan jejak hidupmu ke dalam tulisan. Senantiasa ia akan abadi meski kita berada di ruang keabadian."