Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Suci Ayu Latifah

Konflik Sosial dan Permainan Politik Aceh

Judul buku       : Kawi Matin di Negeri Anjing Penulis             : Arafat Nur Penerbit            : Basabasi Terbit                : Maret 2020 Tebal buku       : viii+172 ISBN                : 978-623-7290-68-1 Sesungguhnya, tema Kawi Matin di Negeri Anjing hampir sama dengan beberapa novel Arafat lainnya. Termasuk tiga novel yang diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama: Lampuki, Tanah Surga Merah, dan Tempat Paling Sunyi pada tahun 2019. Ada pula, novel fenomenal yang diterbitkan dalam bahasa Inggris: Burung Terbang di Kelam Malam dan Lolong Anjing di Bulan . Novel-novel itu bercerita sejarah panjang nan pelik masa pemberontakan Aceh tahun 1976 sampai dengan ...

Aku Malu Jadi Manusia

“Sekalipun anjing berasal dari ludah iblis, ia sangat setia kepada manusia. Kesetiaan anjing tidak sebanding dengan kesetiaan manusia....”   (hal.188). Demikian itu secuil kisah dari novel Arafat Nur , Lolong Anjing di Bulan yang berhasil menculik perhatian saya . Anjing adalah anjing. Anjing adalah kelompok binatang. Dia bukan manusia. Nama -nama binatang sering dijumpai dalam novel, cerita pendek, puisi, dan genre sastra Indonesia. Seperti anjing, kucing, babi, singa, harimau, kuda, siput, elang, tikus, dan lain sebagainya. Binatang-bintang tersebut ditempelkan sebagai warna cerita. Bahkan, bisa saja dialah tokoh yang produktif. Seakan binatang andil peran laiknya manusia. Katakanlah, novel Dataran Tortilla (1977) karya John Steinbeck. Steinbeck dengan fasih bercerita tentang tokoh Pilon dan ayam. Pilon adalah pembunuh ayam yang ditemukan di pinggir hutan pinus sebagai santapan makan malam. Ayam dalam novel tersebut dijadikan kemenangan tokoh dalam membunuh dan menyanta...

Surat untuk Mas Fendik (14)

Bagaimana kabarmu, Mas? Alhamdulillah ya, tidak terasa kita berjalan di minggu ketiga di bulan Suci ini.  Selamat menjalankan ibadah puasa di ruang keabadianmu.  Semoga, ketakberaturan hidup semakin berkurang ya Mas. Aku merindu kehidupan yang damai, tentram, dan penuh martabat. Cita-cita di dunia tentu melanggengkan kehidupan baik—saling berbagi dan mendoakan sesama. Mas Fendik terkasih, selepas membaca balasan surat darimu. Diri ini tidak mampu berkata-kata. Menulis kalimat pun tak mampu. Aku berusaha menyusunnya, satu dua kalimat, hingga satu paragraf. Kemudian, tombol merah itu muncul. Skak, semua terhenti, termasuk kata-kataku.  Biasanya aku cukup mengalir menuliskan surat-surat untukmu. Mulai dari surat edisi pertama hingga ke-13. Saking lancarnya hingga berhalaman-halaman. Namun, entah mengapa di surat ke-14 ini tanganku amat berat untuk menyentuh berisan keybord. Mas Fendik tercinta, maaf ya, semalam aku dingin. Sebab, aku telah menemukan ...