Mas Fendik, aku hendak menulis sesuatu pada surat ini. Tapi, ketakberaturan pikiran dan emosi membuatku tidak bisa menuliskan sesuatu yang dapat dibaca. Aku tidak tahu hal apa yang sedang aku pikirkan, sehingga tidak bisa tidur. Badanku terasa lelah dan letih. Mata ini mengantuk, tapi enggan untuk tertidur. Segala upaya, sudah aku lakukan untuk mengistirahatkan semua lintasan dalam otak, tapi malam itu aku mengalami kegagalan. Serupa berjalan di sebuah tempat yang tidak ada ujungnya. Aku dituntun oleh sebuah cahaya. Aku berjalan mengikuti cahaya itu. Mas, aku tidak tahu ada di mana sekarang. Keadaan teramat sepi. Sedihnya, aku tidak mengenali diriku. Mas, ada apa denganku? Apakah kamu pernah mengalami kejadian seperti ini. Ohh, Dua hari, aku sibuk menata buku, bongkar-pasang buku. Aku senang, tapi ada hal yang membuatku jengkel—kesia-siaan dalam pekerjaan. Ada sesuatu yang sia-sia. Bagaimana dulu aku teramat berhati-hati, namun akhirnya ya semua sama. Apaan ini, Mas. A...
"Percayalah, suatu hari nanti akan datang berkah dari setiap proses. Tentu, hakikat proses tidak pernah mengkhianati hasil. Percayalah! Untuk hari ini, tuliskan jejak hidupmu ke dalam tulisan. Senantiasa ia akan abadi meski kita berada di ruang keabadian."