Langsung ke konten utama

Postingan

Jadi Penulis? Ya Rajin Baca

Ada sebuah kutipan yang sempat menghentakkan saya. Kutipan itu tercipta dari seorang novelis perempuan berbakat. Mengapa saya mengatakan berbakat? Karena novelis pernah   mendapatkan salah satu penghargaan melalui cerpen terbaik majalah sastra Horizon selama 10 tahun terakhir (1990-2000) dan mendapat Pena Award 2002. Kutipan itu berbunyi seperti ini: Menjadi penulis itu harus serakah; serakah dalam membaca! Memaknai kutipan Helvy Tiana Rosa, menyadarakan kita bahwa membaca itu memiliki dampak yang besar. Membaca dapat diilustrasikan seperti orang yang kehausan. Karena begitu haus maka seseorang akan minum sebanyak-banyaknya, bahkan sampai menghabiskan beberapa botol. Seperti pengalaman saya ketika SMA, ada salah satu teman yang menghabiskan 2 botol aqua sekaligus karena tenggorokannya kering, begitu melakukan uji lari sejauh 1 kilometer. Tidak hanya aqua, selang beberapa menit pun ia membeli makan sebagai ganti energi yang terkuras karena lari. Itulah artian dari serakah. P...

Kenali dan Sayangi Buku

Yusuf Ma’zumi dalam kolom “Pembaca Menulis”, di koran Republika , edisi 28 Agustus 2016, mengatakan bahwa di Amerika ada sebuah perpustakaan yang selalu buka 24 jam. Itu pun tidak pernah sepi, baik di pagi hari, siang ataupun malam. Masyarakat Amerika, khususnya pelajar, rajin berkunjung dan membaca buku di perpustakaan. Fenomena   semacam itu menarik untuk direnungkan. Di Indonesia pemandangan fenomenal itu sulit sekali ditemukan. Apalagi di daerah kecil macam Ponorogo. Berita Antaranews (28/10/2015), memberitakan betapa di negara maju, orang umumnya gemar membaca. Setiap penduduk membaca 20 hingga 30 judul buku setiap tahunnya. Sebaliknya, di negara berkembang termasuk Indonesia, penduduk hanya membaca paling banyak 3 judul buku, itupun tergolong usia 0-10 tahun. Sungguh seperti “binatang langka” saya menyebutnya. Maksudnya tidak sembarang tempat dapat kita jumpai dan temukan.    Tak hanya di Amerika, di Jepang pun, sudah mengakar lama tradisi membaca. Bahk...

Bahasa, Budaya, dan Masyarakat

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA Demikianlah salah satu rumusan “Sumpah Pemuda” dalam Kongres Pemuda II yang beralokasi di Jalan Kramat Raya Nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda , padatanggal27-28 Oktober 1928. Jika kita mau membuka lembaran-lembaran kertas lusuh 80 tahun silam. Maka kita akan mendapati sebuah kesungguhan dari Putra dan Putri Indonesia yang senantiasa bersemangat dan teguh pendirian untuk tetap setia pada tanah suci yang kaya raya nan indahini, Tanah Air Indonesia. Tak hanya itu saja, ternyata mereka memiliki semangat yang menyala-nyala dalam menjunjung tinggi bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia. Bagaimana tidak, karena pendidikan di Negara kita, khususnya pendidikan Bahasa Indonesia kini bernilai baik di mata dunia. Dan, dalam waktu terdekat ini dalam hitungan detik muncullah sastrawan-sastrawan muda sebagai generasi harapan bangsa. Bahasa menurut KBBI (2008:116), yaitu sis...