Langsung ke konten utama

Postingan

Reportase: Lilin Wangi dari Minyak Jelantah

Limbah dapur bekas gorengan alias minyak jelantah , kini disulap menjadi lilin beraroma. Tiga mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo, yaitu Yunita Duwi, Nur Jannah, dan Ratna Anista D mengombinasikannya dengan kulit jeruk. “Ide itu bermula ketika saya berkunjung ke rumah teman lalu melihat beberapa botol berisi minyak jelantah yang akan dibuang,” terang Ratna, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Sabtu (14/7/2018). Ide kreatif pengelolaan minyak jelantah menjadi bahan lilin hias pun diajukan sebagai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan Kemenristek Dikti pada 2017. Desa Wayang, Pulung, Ponorogo dipilih sebagai desa sampel untuk pemberdayaan ekonomi dengan memanfaatkan jelantah sebagai alternatif pembuatan lilin. “Mayoritas warga Desa Wayang memiliki pekerjaan sampingan sebagai penjual gorengan sehingga, banyak bekas minyak di dapur mereka,” kata Yunita Duwi, Ketua PKM 2017. Alasan lain karena warga Wayang sebenarnya tidak tega membuang j...

Reportase: Membangun Pelajar Bersastra

Belajar mengulas karya sastra dari hasil cipta sendiri, menjadi poin terpenting bagaimana sastra dapat mencerahkan pembaca. Karya sastra yang dibaca oleh pembaca dan dicipta pengarang terkadang terjadi tumpang-tindih makna karena perbedaannya pengalaman dan pengetahuan. Oleh karena itu, diadakan Olimpiade Sastra Indonesia VI (OSI) di STKIP PGRI Ponorogo, Kemarin (20/5). Kegiatan itu diprakarsai oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Penulis (UKM HMP). Sejumlah 42 peserta SMA/SMK/MA sederajat se-Karesidenan Madiun bersaing memertahankan hasil ciptanya di hadapan para juri. Di antaranya adalah cipta artikel, cipta puisi, dan cipta cerpen. Serta, pembacaan puisi karya para sastrawan Indonesia. OSI merupakan wadah para pelajar untuk mengekspresikan segala hal. Mulai dari hasil pengalaman hidup, pengalaman indera, pembacaan buku, dan lain sebagainya. Lalu, dituangkan dalam karya sastra.  “Banyak hal yang dapat kita pelajari di kehidupan sosial, yang dapat...

Ihwal Pendidikan

Membaca halaman utama koran Kompas, edisi Selasa, 22 Mei 2018 membuat saya terbelalak. Berita berjudul “151.509 Ruang Kelas Sekolah Rusak Parah” merupakan tamparan yang teramat sakit bagi masyarakat yang berkecimpung di dunia pendidikan, termasuk saya. Meskipun masih penikmat bangku kelas, sebagai mahasiswa hati terasa tercabik-cabik membaca berita tersebut.  Penyakit dalam bidang pendidikan belum bisa terselesaikan hingga detik ini. Tidak saja menyerang organ dalam pendidikan, tetapi juga piranti pendidikan. Sebagai contoh sarana dan pra sarana penunjang belajar siswa. Hari ini kembali noktah tersebut tergaris, yaitu rusaknya ratusan ribu ruang kelas sekolah jenjang SD, SMP, hingga SMA. Permasalahan utamanya disebabkan alokasi APBN selama tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Kemudian ditambah, pengelolaan pendidikan pemerintah daerah belum berjalan baik, yakni sumber daya manusia belum memadai. Dua permasalahan mendasar itu, menurut saya harus diberikan benang mera...

Cerdas Bermedia Sosial

Popularitas media sosial hingga tahun 2017 masih akan terus melonjak. Media sosial bukan lagi menjadi media komunikasi antarindividu atau kelompok. Namun “dunia kedua” dan sumber informasi. Semua informasi dapat diakses dengan mudah lantaran kecanggihan teknologi dan infomatika. Imbasnya, mulai dari suhu politik, hukum hingga berujung konflik dan ketegangan sosial akan mewarnai dunia. Media sosial atau medsos , di era digitalisasi tak ubahnya seperti senjata tajam. Di satu sisi, dapat digunakan sebagai jalan kebaikan, seperti menjalin silahturahmi, berbagi ilmu, dan penelusuran informasi. Di sisi lain, digunakan sebagai jalan keburukan, seperti yang terjadi di tahun ayam api ini. Indonesia 2017 tengah diserang badai besar yang datang dari pelbagai sudut, salah satunya adalah beredarnya ujaran kebencian atau hoaks. Kegelisahan masyarakat, mulai terasa begitu informasi baru bersifat bohong yang dibawa sekelompok manusia tak bertanggung jawab sangat tak diuntungkan.   Beri...

Reportase: Jangan Jual Budaya ke Tetangga

Aktor dalam pementasan lakon teater harus memiliki rasa sensitif tinggi. Sensitif terhadap orang lain, lingkungan, budaya, sentuhan hingga bau. Itu yang harus dipenuhi sebagai pembangun ruang imaji. Selain itu, karakter lakon menjadi bagian terpenting agar dapat menghayati peran yang dimainkan. Itulah pesan Suprapto, pembimbing teater Wakamandini STKIP PGRI Ponorogo. “Sensitif bukanlah sebuah ego, melainkan sensitif terhadap realita lingkungan sekitar,” tambahnya. Pementasan teater berlangsung di Gedung Kesenian Ponorogo, Jl Batoro Katong, Ponorogo, Sabtu (21/4/2018). Pentas berjudul Jatil Ndalem Pujokusuman karya mahasiswa mengangkat cerita tentang jual-beli seni budaya dengan negara tetangga. Tari Jatil dan kesenian reog dari Ponorogo dalam lakon itu dibeli Rp 500 juta. Pembeli berjanji akan membuat acara besar pagelaran jatil setelah berhasil memiliki seni itu. Aksi jahat yang dilakukan Bu Siti terhadap aset budaya, dicurigai Minah, Suryo, dan Y...