Langsung ke konten utama

Postingan

Feature Sosok: Ayo Main Dakon atau Gobak Sodor

Di era digital, ketika anak-anak dimanjakan dengan gawai sebagai mainan mereka, Sopyan Arina (26) tertarik menghidupkan permainan tradisional di kota kelahirannya. Fajar menembus Desa Ketonggo Bungkal Ponorogo, sekitar 20 anak usia sekolah dasar hingga menengah pertama menikmati cerianya setiap hari Minggu di halaman TK Darma Wanita Kenonggo. Lahir 2019, Paguyupan Permainan Jaman Dulu mampu mengembalikan dunia anak-anak pada dunia bermain. Setiap hari Minggu, pukul 08.00-11.00 WIB, paguyupan tersebut mengajak anak-anak sekitar desa untuk bermain.  “Dunia anak adalah bermain. Yaitu bermain secara nyata,” ungkap pendiri Paguyupan Permainan Jaman Dulu, Arina. Pihaknya mengungkapkan, permainan yang tersedia di gawai memang menarik, seru, dan penuh tantangan. Tetapi, permainan itu semu. Berbeda dengan bermain lapangan saat dirinya kecil, itu nyata. Kerja sama tim bisa dilihat secara langsung. Sehingga, akan menumbuhkan kekompakan, kebersamaan, kerjasama, dan spor...

Cerita Inspiratif: Tiga Kunci Utama Hidup

Suara bising orang-orang di dalam bus, ada bahasa keakraban. Mereka saling bercanda, bersanda gurau. Tak ada yang peduli siapa yang risih dengan coletahnya. Kalau ditanya, maka kujawab itulah bahasa sosial di negeriku. Mujilah, perempuan paruh baya itu, naik dan masuk bus dengan kaki pincang. Suaminya yang catat terlebih dahulu memasuki lorong bus yang cukup untuk dua orang jalan bersama. Keduanya menelanjangi kursi. Berharap ada kursi yang kosong untuk ditempati. Dua langkah melawan arah bus, seorang aku mempersilahkan duduk perempuan beralis tebal lagi hitam itu. Ia hanya menjawab salam, lalu duduk di sebelahku. Di pangkunya tas seharga empat puluh lima ribu. Di sampingnya, suaminya yang bernama Slamet Raharjo menikmati perjalanan. Udara terasa panas, Mujilah menawarkan sebuah kertas untuk suaminya. Barangkali kertas itu mempu meredakan panas di tubuh lelaki cacat itu. Ya, lelaki yang terpaut tidak jauh usianya, sekitar enam tahun itu cacat karena sebuah tragedi. Entah...

Jangan Sebut Penulis

Tahun 2018, sebentar lagi habis. Tahun 2019, sudah di depan mata. Berbicara tentang harapan di tahun baru, bagi saya tidak akan cukup bila saya torehkan semuanya. Namun, dari berbagai harapan dan keinginan yang sebenarnya ingin terwujudkan, ada satu hal yang cukup penting sebagai bentuk pencerahan kepada generasi milenial. Seperti yang kita ketahui, generasi milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1980-1990-an hingga 2000-an awal. Bagi saya, ada hal yang tak mengenakan kecenderungan generasi milenial saat ini. Sebagaimana contoh, beberapa kali ketika saya bertemu atau berkenalan dengan mereka yang notabene berkecimpung dunia tulis-menulis. Mereka selalu menyebutkan dirinya penulis. Pernyataan itu, terkadang membuat saya risih. Bagaimana tidak? baru saja mampu menulis, dan kebetulan diterbitkan sudah menyebutkan dirinya penulis. Bagi saya, seorang penulis adalah mereka yang getol, istiqomah, dan amanah dalam dunia kata. Bukan mereka yang baru saja menyentuh, mengakrabi ...

Bagaimana Bahasa di Hati Bangsanya?

Momentum sumpah pemuda kembali hadir menyapa kita. Kali ini penting memaknai secara lebih serius. Tidak sekadar mengatasnamakan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Lebih dari itu, bagaimanakah andil kita sebagai generasi muda dalam merawat potensi besar Indonesia. Tentunya kita sudah mengetahui, ragam bahasa di Indonesia. Ada sekitar 742 bahasa di seluruh Indonesia. Mulai dari pojok Sabang hingga Merauke. Setiap daerah memiliki kekhasan bahasa sendiri. Mari ingat bersama, ungkapan Muhammad Yamin, “Bahasa menunjukkan bangsa. Tiada bahasa hilanglah bangsa.” Sejenak kita renungkan begitu vitalnya bahasa bagi suatu bangsa. Karenanya, mencintai bahasa menjadi kewajiban, yang mutlak dicintai. Mencintai Bahasa Mari bertanya pada diri, “Sudahkah kita mencintai bahasa Indonesia, bahasa persatuan itu? Mencintai bahasa dari segala aspeknya merupakan wujud bagaimana seseorang memiliki rasa memiliki dan takut akan kehilangan. Menurut buku yang saya baca, ada delapan tanda...