Langsung ke konten utama

Postingan

Surat untuk Mas Fendik (4)

Mas Fendik, aku hendak menulis sesuatu pada surat ini. Tapi, ketakberaturan pikiran dan emosi membuatku tidak bisa menuliskan sesuatu yang dapat dibaca. Aku tidak tahu hal apa yang sedang aku pikirkan, sehingga tidak bisa tidur. Badanku terasa lelah dan letih. Mata ini mengantuk, tapi enggan untuk tertidur. Segala upaya, sudah aku lakukan untuk mengistirahatkan semua lintasan dalam otak, tapi malam itu aku mengalami kegagalan. Serupa berjalan di sebuah tempat yang tidak ada ujungnya. Aku dituntun oleh sebuah cahaya. Aku berjalan mengikuti cahaya itu. Mas, aku tidak tahu ada di mana sekarang. Keadaan teramat sepi. Sedihnya, aku tidak mengenali diriku. Mas, ada apa denganku? Apakah kamu pernah mengalami kejadian seperti ini. Ohh, Dua hari, aku sibuk menata buku, bongkar-pasang buku. Aku senang, tapi ada hal yang membuatku jengkel—kesia-siaan dalam pekerjaan. Ada sesuatu yang sia-sia. Bagaimana dulu aku teramat berhati-hati, namun akhirnya ya semua sama. Apaan ini, Mas. A...

Surat untuk Tuan Korona

Selamat pagi Tuan Korona. Sampai manakah perkembangbiakanmu saat ini? aku harap ketika kebutuhanmu terpenuhi segera hengkang dari tanah air. Aku tidak ingin negeriku terus berduka. Korona, aku tahu, kamu sebenarnya virus yang baik. Kamu salah satu ciptaan Tuhan. Korona, kukabarkan padamu, bahwa kita diberi anugerah untuk hidup. Kamu berhak hidup sebagaimana kehidupanmu. Dan, manusia berhak hidup atas kehidupannya. Aku mohon kepadamu untuk tidak lagi mencari inang di tubuh manusia. Kami takut kehilangan saudara, teman, dan kerabat. Kalau kamu butuh makanan, cobalah cari makanan lain. Jangan pada manusia. Korona, aku tahu memang manusia di zaman sekarang banyak berdusta atas dirinya sendiri dan orang lain. Orang-orang elit semena-mena, aku tahu. Pemimpin, saling mengejar status dan kedudukan, aku tahu. Orang kaya, banyak yang lupa atas penderitaannya, aku tahu. Aku juga tahu, tidak pun kujelaskan, kamu sudah tahu tentang tabiat manusia era ini. Jika kamu tahu, ...

Surat untuk Mas Fendik (3)

Hari Senin rendah sinar. Semoga semangat Mas senantiasa berbinar. Mas, kusebutlah semua (fenomena sosial), hanyalah hukum kausalitas. Aku percaya semua orang di muka ini baik. Mereka beragama, dan semua agama di tanah air mengajarkan tentang kebaikan. Tetapi, timbullah pertanyaan dalam hari kecilku. Mengapa kok ada tindak atau sikap manusia menyakiti? Mengapa manusia melakukan itu? Apakah manusia telah dekadensi moral, nilai-nilai kemanusiaannya alpha? Menurutku, orang menyakiti karena pernah tersakiti. Dan, orang tersakiti suatu hari nanti tanpa sadar telah menyakiti manusia lain. Aku mengenalnya karma. Aku tidak mengerti tentang lema ‘menyakiti’, ‘disakiti, ‘tersakiti’, dan ‘sakit’. Bukankah itu lema bermakna negatif. Muasal, bagaimana dan mengama itu tercipta?  Ahh, kali ini aku banyak bertanya kepadamu, Mas . Maaf. Sedikit heran saja aku. Mengapa sih ada lema itu. Apakah ada jiwa manusia yang menginginkan dan menghendaki suasana itu? Aku rasa tidak. Su...

Surat untuk Mas Fendik (2)

Hai. Mas Fendik, kapan engkau menemui aku? rindu ini terus menepi, lagi-lagi menyiksaku. Apakah kau juga begitu? Aisyah. Itu lagu religi beraroma roman. Adalah sebuah lagu yang menceritakan betapa Aisyah, putri dari Abu Bakar teramat mencintai Rasulullah. Demikian Rasulullah membalas cintanya. Mas Fendik, hingga detik ini kutunggu pernyataan cintamu kepadaku. Sebagaimana Rasulullah kepada Aisyah, istrinya. Ya, aku menunggu pernyataan itu langsung darimu. Siang ini Mas, udara teramat panas, padahal matahari malu-malu untuk memperlihatkan diri. Entah, sudah beberapa hari ini udara terasa panas. Laiknya ayam, aku ini sebentar lagi masak. Dan, siap untuk disantap. Dalam rebahan karena tidak enak badan, kusigap sebuah novel menarik, Percikan Darah di Bunga. Novel itu ditulis oleh Arafat Nur. Pertama kali, novel itu diterbitkan oleh salah satu penerbit di Aceh pada tahun 2005. Kemudian, karena laku keras, diterbitkan lagi pada tahun 2017 oleh basabasi.com Perihal n...