Langsung ke konten utama

Postingan

Mungkinkah, Mungkin.

Sulit untuk sekadar mengungkapkan, sekalipun bermedium bahasa mengalir. Mungkin, entah iya karena maknanya  dalam, atau persoalan konsep yang luas. Segala sesuatu memang, tak biasa diungkapkan ketika sesuatu itu besar. Lalu, bagaimana jika harus bermaka. Mungkinkah mengapa akan menemukan sebuah sebab alasan. Mungkinkah, mungkin Mau tidak mau harus dicari

Di manakah Demokratisasi Kita?

Asu gedhe menang kerahe. Barangkali, peribahasa Jawa tersebut cocok untuk mewakili intisari novel Kawin Matin di Negeri Anjing. Novel tersebut merupakan juara II sayembara menulis novel nasional Basabasi. Tanpa meragu tentang cerita novel, penulis Arafat Nur kembali menyuguhkan cerita berlatar Aceh. Kawin Matin di Negeri Anjing , sesungguhnya setema dengan novel-novel sebelumnya. Novelis seolah tiada habis bercerita tentang Aceh dengan segala pergolakannya. Mulai dari aspek sosial, budaya, politik, hukum, ekonomi, dan lain sebagainya.  Setelah membaca novel tersebut, saya teringat akan peribahasa Jawa asu gedhe menang kerahe . Artinya, orang yang berpangkat tinggi, pasti lebih menang dalam berpekara. Menilik dari peribahasa Jawa tersebut tampak jelas, novel ini meruang persoalan kritik sosial. Novelis menggiring pembaca pada fenomena sosial yang sering kali memanfaatkan jabatan. Tampaknya, inilah yang terjadi pada bangsa kita hari ini. Darwis, si anak kepala kampung ...

Sinau Ngerti

Kalau kamu mencari orang pintar di dunia ini, mudah saja. Kamu bisa berjumpa di mana saja. Namun, kalau kamu mencari orang yang mengerti (roso) di dunia ini, perlu bersabar. Fenomena mengungkap, banyak orang pintar tanpa mengerti. Maka, gunakan hatimu dalam setiap tindak dan pikiran. 

Sopo Wonge sing Nandur, Bakalan Panen

Pepatah Jawa mengungkapkan, sopo wonge sing nandur, bakalan panen. Pepatah filosofis itu mengingatkan saya tentang banyak hal. Tentang sebuah usaha yang saya lakukan dengan sungguh-sungguh, ulet, dan gigih. Orang-orang bijak bilang, seseorang yang mau berusaha, ia pasti akan mendapatkan hasil dari apa yang diusahakan. Sebesar atau sekecil usaha itu. Pada saatnya. Alam turut bertasbih. Kemarin (26/08/2020), saya telah berbagi ilmu kepada teman-teman mahasiswa yang sedang melaksanakan ujian skripsi. Pesan saya kepada mereka adalah, bahwa menulis itu bukan menyalin. Seseorang harus berusaha, dan bersabar dalam merangkai kata-kata. Kata-kata itu seni, seni itu indah, maka berikan keindahan itu pada tulisan. Selagi masih muda, lebarkan jangkar pikiran, jangan bangga dengan gelar karena mencontek. Istilahnya plagiasi. Apa yang kamu dapat, tidak lebih dari penyesalan hidup. Bukankah seseorang selalu ingin dilihat berbeda? Maka lakukanlah pada tulisanmu. Ujian adalah momen kita mempertang...

Mengkritik Boleh Asal Membangun

Dear Mas Fendik, Selamat makan siang, semoga di musim pandemi ini kebutuhan dasarmu tercukupi ya. Jangan lupa belajar menyukai buah-buahan supaya pencernaanmu lancar. Surat berbau tempe ini, kukirim sebagai pelipur fisik yang lelah. Aku baru saja menyelesaikan tugas, eh seakan jadi kewajiban saya ya. Ya, perempuan Jawa harus memasak, menyiapkan makanan. Udara yang panas, menurutku paling cocok menu makanan yang ringan. Maksudku, tidak bersantan dan berminyak. Lagi pula, aku tidak begitu menyukai sensasi makanan itu. Sayur asam, botok, tempe goreng telah tersaji di meja. Urusan perdapuran sudah selesai, tinggal makan, mandi, dan istirahat. Rasanya, itulah yang sehari-hari aku lakukan. Ada kalanya aku bosan memasak. Bolehlah dimasakin begitu. Namun, inilah esensi yang aku rasakan. Kepuasan hati, ketika memasak kemudian mendapat pujian, "Masakanmu enak. Pas. Tidak asin, pedas." Kodrat manusia suka dipuji. Dan, aku suka ketika mendapati pujian semacam itu, ya dalam hal ...

Belajar Kita

Manusia sering kali tidak menyadari bahwa ia telah melakukan. Katakanlah belajar berbagi, adalah pelajaran besar hidup yang tidak sekadar memberikan pengertian tentang pentingnya berbagi. Lebih dari itu, mengajarkan bagaimana kita membuat seseorang bahagia dengan apa yang kita lakukan. Itu terjadi pada saya. Saya tidak sadar telah melakukan banyak hal untuk orang lain. Syukur, dalam hati sebagian hidupku untuk orang lain. Itu petanda saya cinta, makanya memikirkannya. Seseorang berkata pada saya pada suatu malam, "Berkat kamu mungkin aku tidak akan mengenal yang namanya dunia menulis. Sekarang aku suka menulis. Apa saja aku tulis untuk kebahagian diri." Saya tersenyum membaca pesan itu. Setiap pertemuan memang tidak ada yang salah, sekalipun tidak jarang mencipta luka. Pertemuan adalah sebuah ketakdiran. Saya bertemu dengan kalian, bukanlah rencana saya. Itu rencana Tuhan. Tuhan bekerja dengan cara-Nya untuk mempertemukan dan memisahkan kita. Sebagian dari hidup saya...

Ikrar

“Cinta adalah karunia Tuhan kepada jiwa-jiwa yang peka dan agung. Haruskah kita campakkan kekayaan ini dan kita biarkan babi-babi itu memporak-porandakan dan menginjak-injaknya. Dunia begitu penuh keajaiban dan keindahan. Lalu mengapa kita hidup dalam terowongan sempit yang digali oleh pendeta itu untuk kita. Hidup penuh dengan kebahagiaan dan kebebasan, mengapa kita tetap membiarkan belenggu di pundak dan kita patahkan rantai yang menjerat kaki kita, lalu berjalan bebas menuju kedamaian.”--Kahlil Gibran. Tuhan, dalam doa malam ini, sampaikan salam rindu pada kekasihku. Merindu akan sayapnya adalah sebuah keyakinan. Aku percaya, kirimanmu tidak salah. Pada saatnya akan tiba dan mengobati rindu mendera. Tak mudah berjalan di bumi dengan sepasang kaki. Butuh kaki lain untuk menyatukan pikiran, menciptakan peradaban. Karenanya, dalam surat malam ini, aku hendak mengadu padamu. Kekacauan di bumi tiada henti setiap waktunya. Adu saling beradu tanpa ada batas. Sayat luka belum ...