Langsung ke konten utama

Postingan

Sinopsis Novel Bayang Suram Pelangi Karya Arafat Nur

  Bayang Suram Pelangi merupakan satu dari beberapa novel Arafat Nur yang bercerita tentang tragedi kemanusiaan di Aceh pada tahun 1976-2005. Melalui novel ini, Arafat bercerita suatu konflik sosial GAM dengan tentara Indonesia. Bayang Suram Pelangi mengambil secuil dari sejarah Aceh pada tahun 2003 di kampung Meurawoe dan sekitarnya. Novel dimulai pada pekan ketiga bulan Januari 2003, tentara Indonesia mendirikan pos di sekitar Pasar Pariabek. Tak lama dari kedatanganya, mereka berbaris untuk mempersiapkan diri keliling kampung. Saidul merupakan tokoh episentrum dalam Bayang Suram Pelangi . Ia berkesempatan menjadi tokoh penggerak cerita. Ia dengan leluasa bercerita tentang suatu kondisi sosial yang teramati, terasakan, dan teralami olehnya. Terlebih, setelah salah satu keluarganya merupakan bagian dari kelompok pemberontak Aceh (Sani). Saidul pula, termasuk tokoh kritis. Dorongan mengkritisi sesuatu sering kali menyapa. Ia tidak habis pikir mengapa realitas sosial tidak sama d...

Surat untuk Mas Fendik (22) Tentang Air Mata

Dear Mas Fendik,   Bagaimana kabarmu? Semoga kabar baik di awal November yang akan dibuka dengan kembalinya masuk ruang kerja. Semoga, setelah libur dan cuti bersama ini semangat untuk memberikan terbaik bagi diri sendiri, orang lain, dan negara berkibar-kibar. Tentu, semangat atas hidup harus kita ciptakan sendiri. Kita tidak bisa menunggu suasana ataupun kondisi yang baik. Ragam persoalan seolah tiada henti. Termasuk persoalan pikiran. Rumitnya pikiran kita, sering sekali membuat kondisi semakin keruh. Aku merasakan di berbagai belahan dunia tak lekang oleh masalah. Baru-baru ini, terlepas korona, publik diramaikan dengan boikot produk Perancis. Dalihnya kebebasan ekspresif. Memang ada kebebasan ekspresif, namun lucunya bebas kok ada batasan. Mestinya, bukan kebebasan namanya. Entah apa supaya tidak membuat pembaca salah paham. Bagi orang awan tentu yang namanya bebas, ya bebas. Tidak ada batasan. Hehehe, bagi orang awan. Mereka saja yang berpendidikan nyatanya juga salah pah...

Jalaran

"Kalau ada orang datang, dan meminta, berilah yang kamu punya. Jangan sesekali membiarkan orang itu pergi dengan sia-sia." Itulah ajaran kebaikan keluarga yang selalu dan selalu Bapak ingatkan. Berkurang karena untuk menolong mengingatkan apa yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan. Semua akan kembali dan hilang dengan cara masing-masing.  Seorang teman, tadi pagi memberikan uangnya kepada orang tidak dikenal. Cerita itu bermula ketika ia membuang sampah, tiba-tiba datang sepasang suami-istri. Keduanya jalan kaki dengan langkah gontai karena kaki suaminya cacat. Sang Istri kemudian mengeluarkan uang lima ribu.  Ia bercerita kehabisan uang. Ia butuh uang untuk pulang ke sebuah desa X. Ia bercerita tentang perjalanannya dari sebuah desa X, naik turun angkot, dan kini kehabisan uang.  Rasa prihatin menjalar pada jiwa temanku. Tangannya terdorong mengambil uang di sakunya. Sesaat, uang itu berada pada kantong lain. "Tidak papa," komentarku setelah mendengar ceri...

Doa

Hai Mas Fendik... Dalam pesona doa Tuhan, kukirimkan kesejahteraan hati untukmu. Suatu energi positif sebagai pengekal kehidupan. Ingin aku tahu indahnya hidup yang abadi, namun untuk tidak saat ini. Ada banyak rencana dalam hidupku, dan harapan besarku, 50% atau lebih-lebihnya 60% terwujudkan. Dan, ketika hadirku menghadapmu, kubawa semua cerita atas proses menuju impian. Andai, ada keajaiban aku ingin tentu, impian ini teriring olehmu. 

Surat untuk Mas Fendik (21)

Hai Mas Fendik, apakah kelak Indonesia membutuhkanku? Ketahuilah, untuk saat ini aku merasa Indonesia tidak membutuhkan orang yang pandai, melainkan orang-orang yang cerdas. Menjadi Indonesia maju, tidak cukup unggul dalam pemikiran-pemikiran atau gagasan-gagasan. Indonesia maju butuh kerja keras yang sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan. Karenanya, Indonesia butuh skill anak bangsa, yang tidak takut mencoba hal baru. Thomas Alva Edison, bukanlah sosok yang pandai. Justru ia disebut gurunya sebagai siswa yang bodoh. Nilainya tidak pernah memuaskan. Namun, siapa yang sangka keberaniannya mencoba membuat kita tahu akan lampu, telepon, dan temuan-temuan lain darinya. Kita penting belajar dari semangat kegagalannya bereksperimen. Barangkali, apabila Thomas menyerah dipercobaan ke-999, dunia tidak akan mengenal lampu. Begitupula dengan Einstein, tampak serupa dengan Thomas. Einstein bukanlah orang yang pandai dalam intelektual. Tapi, ia cukup gigih berpikir untuk menciptakan sesuatu. Aku r...

Perspektif Seribu Mata Tentang Manusia

Tentang manusia dilihat atas dasar sudut pandang tertentu: homo ludens, manusia makhluk bermain; homo economicus, manusia makhluk ekonomi; homo sociologicus, manusia makhluk yang hidupnya secara niscaya melekat pada faktisitas masyarakat; homo educationis, manusia makhluk yang bisa dididik; homo historis, manusia makhluk sejarah;  

Surat untuk Mas Fendik (20)

Perjumpaan denganmu, laksana embun--terbatas waktu. Di balik tirai love yang baru saja kubeli di sebuah toko, kuintip kenangan itu. Aku menikmati pelan derum hujan musim hujan. Bau tanah merebak, memenuhi ruangan. Aku berusaha menguasai diriku untuk tidak terjebak pada masa, ketika kita ... Hai Mas Fendik, kukabarkan padamu, musim hujan datang begitu lambat. Sekarang berada di  pertengahan bulan Oktober. Mestinya ia hadir di bulan September-Oktober awal. Tampaknya, cuaca memang telah berubah Mas. Sebagaimana aku, harus bangun awal untuk sekadar menghirup aroma embun.Itu yang bisa kulakukan untuk mengingatmu. Perubahan cuaca mendatangkan embun lebih singkat. Kalau kau tanya, tidak cukup untuk aku menyelesaikan cerita tentang kepingan-kepingan kenangan kita. Akan ada kerumpangan setiap latar peristiwa dan suasana yang kutulis. Tentu, bagaimana pun kenangan itu terjadi maunya utuh dengan sederet cerita dalam bayang. Oh, Mas Fendik ajariku tentang kerelaan dan keikhlasan. Jalan mulai ...